Sabtu, 28 Maret 2009

Masjid Nabawi


Jika kita teringat dengan istilah "Madinatul Munawaroh" tentu kita pasti ingat siapakah pembangun kota ini, yakni nabi Muhammad SAW. Rasullullah yang merupakan pemimpin umat yang Rahmatan Lilalamin. Dikota inilah Masjid yang terkenal yang dibangun oleh Nabi besar Muhammad SAW,setelah beliau hijrah dari kota Mekkah Al Mukarramah yakni Masjid Nabawi atau masjidnya nabi. Di dalam masjid ini pula terdapat makam beliau dimana seluruh umat muslimin di dunia banyak mengunjungi untuk melaksanakan ibadah Haji maupun Umrah. Pada tahun 2005 "Ana" berkesempatan untuk berjiarah ke makam Rasullulah ini dalam tour of Umrah. Banyak cerita menarik yang terjadi selama melaksanakan Umrah ini, dari sendal yang hilang setelah pulang dari masjid maupun saat memegang Baitulah ataupun Ka'bah yang penuh sensasi tersendiri, terputar di dalam Masjidil Haram tanpa sadar karena lupa pintu masuk yang dituju dimana menaruh sandal sebelumnya. Serta berbagai pengalaman unik lainnya yang coba akan di paparkan dalam beberapa cerita berikutnya. Salam Baitullah, "Labbaikallahumma labbaik, la syarikalakalabaik."

Selasa, 17 Maret 2009

Masjid Cut Mutiah


Pada tanggal 11 Februari 2009, kami di undang oleh Humanitarian Forum Indonesi yang berkolaborasi dengan MDMC (Muhammadiyah Disaster manajemen Center dan Uniesco ke Jakarta untuk memberikan masukkan dalam rangka penyusunan alat penilai kesiapsiagaan bencana untuk masyarakat. Sebagaimana yang diketahui ada 9 hazard atau bencana yang umum terjadi di Indonesia. Hari pertama cukup melelahkan karena kami harus berangkat pukul 3 dini hari untuk mengejar keberangkaan dengan pesawat Garuda pad pukul 07.00 pagi. Setelah tiba pukul 06.00 pagi di Bandara sepinggan Balikpapan. Kami langsung bordingpass, setelah menunggu 30 menit langsung menuju pesawat. Perjalanan ke Jakarta menuju bandara Cengkareng, memerlukan waktu kurang lebih 2 jam. Tepat pukul 08.00 kami telah tiba di Cengkareng, waktu Jakarta lebih lambat 1 jam dimana untuk wilayah Balikpapan saat itu pukul 09.00. Kami segera menuju pangkalan taksi,setelah tidak mendapatkan silverbird yang murah kami segera mencari pangkalan si sebelahnya yaitu Taksi Gymna dengan harga masih cukup mahal (sekitar 170 ribu Rp). Pukul 09.00 kami telah tiba di Hotel Sopian Betawi dimana acara dilakukan.



Setelah satu hari berseminar dan di lanjutkan sampai jam 08.00 kemudian selesai jam 09.00 malam. kami bertiga (Aku, Heppy dan Ike) coba untuk berjalan-jalan di sekitar lokasi Menteng. Setelah menyeberang jalan dan tidak ada lokasi yang cukup bagus untuk di kunjungi kami kembali menyeberang lagi ke lokasi semula untuk kembali ke hotel Sopian. Baru beberapa langkah persis di simpang empat Menteng itu, tiba-tiba ada motor metik dengan penumpangnya dengan cepatnya menyambar tas tangan Yunike yang bergantung di bahunya, dengan secepat kilat juga aku melihat Yunike terlempar di badan jalan terguling-guling, aku tidak sadar, kupikir dia di tabrak, eh, taunya dia mau dijambret tasnya, namun tidak berhasil karena tas tangan itu masih tergantung dan tersangkut di tangannya. Yunike setengah sadar sambil berkat dengan ku pa..pa tasku, aku agak sedikit terbengong alias kebingungan. Namun kucoba mengangkat tubuh Yunike ke pinggir jalan da menyandarkannya di box telpon yang ada di Jalan Menteng tersebut, selang beberapa waktu ada beberapa orang mengerumuninya dan bertanya apa yang terjadi. " Spontan saja ku katkan bahwa kami di Jambret. Ada beberapa orang menyarankan untuk di bawa ke rumah sakit Bunda" yah dengan seksama bersama Heppy kami bawa Yunike ke Rumah sakit Bunda dengan mengendarai bajai yang ada tidak jauh dari tempat kejadian. Tanpa terasa di lenganku darah Yunike meleleh dari kepalanya, ternyata kepalanya terhempas di lantai jalan dan bocor. Setelah sampai di rumah sakit Bunda, kami segera bertanya dengan Satrpam dan disarankan untuk menuju UGD. Disana Yunike di tangani oleh beberapa perawat dan seorang dokter perempuan untuk menjahit kepalanya yang terluka, cukup lebar luka Yunike dengan empat mata jahitan.


Keesokan harinya ku cerikan kejadian ini saat makan pagi, semua panitia terkejut, biasalah expresi peduli, namun kami dapat mengikuti kembali aktifitas FGD PASTI yang dilakukan oleh panitia.

Setelah pukul 11.30 menit acara break sebentar karena hari itu hari Jumat, kami harus melakukan Jum'atan di Masjid di seberang Hotel Sopian Betawi. Setelah mengambil air wudhu aku langsung menuju mesjid bersama teman-teman. Karena seumur hidup belum pernah masuk masjid yang agak aneh ini, ya aku meras unik saja, Ternyata masjid ini bangunannya tidak tepat menghadap ke Barat atau arah kiblat. Jika kita di dalam masjid harus menyerong ke kanan lagi 15 derajat (serong lima belas derajat). Setelah bertanya dengan teman-teman yang tahu Jakarta , oh ternyata bangunan itu adalah bangunan rumah, kemudian difungsikan menjadi gereja setelah itu baru di hibahkan lagi untuk Masjid. Yaah itulah Masjid CUT MUTIAH yang berada di Menteng, dekat Hotel Sopian Betawi. Namun Masjid ini cukup banyak juga jamaahnya sampai para jamaah meluber ke luar masjid. Hampir setiap Jum'at pula di luar pagar masjid ada Pasar dadakan sebelum sholat kemudian kurang lebih 30 menit setelah sholat dan setelah itu bubar. Lumayan ada berbagai penjual baju koko atau muslim, makanan, obat-obatan,kaset dan sedal jepit maupun sepatu.
Itulah keunikan Masjid Cut Mutiah di sekitar Menteng, Jakarta Pusat. adalah bagian dari journey yang aku lalui di Kota Besar. Sampai jumpa Masjid Cut Mutiah pada waktu-waktu berikutnya jika berkunjung ke ibukota.

Senin, 16 Maret 2009

Jurus pengolah prana

Ada banyak perguruan tenaga prana yang ada di Indonesia. Saya pernah belajar jurus ini semasa masih sekolah di SMU. Jurus ini ada sepuluh dengan gerakan yang berbeda-beda. Jika di latih dengan seksama dan konsentrasi penuh yang baik, maka akan menghasilkan tenaga prana yang dapat diamnfaatkan untuk pengobatan. Selain itu fungsinya juga untuk menjaga diri dari serangan musuh yang ingin berbuat jahat secara kontak fisik.
Menurut para kinisepuh yang mengajarkan jurus ini beliau dapatkan saat belajar di tanah jawa, tepatnya di daerah Jawa Barat. Konon kabarnya jurus ini juga pernah dipelajari oleh para petinggi negara kita bahkan para pendiri negara kita yakni Presiden RI yang pertama. Mengenai kebenaran informasi ini silahkan atau dapat di tanyakan dengan perguruan yang sekarang masih eksi di daerah Jawa Barat dengan inisial wilayah itu adalah IM. Untuk lebih jelasnya wilayah dengan inisial IM ini akan di paparkan pada tulisan yang akan datang.
Kembali pada jurus ini, ada sepuluh jurus dengan nama pada masing-masing jurus tersebut. Jurus ini memiliki langkah dengan gerakan menggeserkan kaki ke bumi untuk menyerap magnet bumi serta gerakan tangan yang menggesekkan ke tubuh guna membangkitkan aura yang ada dalam tubuh sehingga memiliki energi yang dapat digunakan sebagaimana paparan diatas tadi.

Bintang Surya

BINTANG SURYA, judul ini adalah 'nama" sebuah harapan dari seorang sepuh yang memiliki padepokan sebuah perguruan silat yang bercampur dengan tenaga prana. Dimana awalnya untuk membangun sebuah padepokan guna menambah kawan, teman dan persahabatan demi langgengnya sebuah jalur kehidupan yang di jalani selama ini. Dilain hal juga untuk saling berbagi untuk yang memiliki pengalaman klenik atau hal-hal yang logis namun tak tampak oleh mata jahir. Sekali lagi disini bukan untuk menampakkan kelebihan dari inner power tetapi hanya menempa diri menjadi perbuatan-perbuatn yang lebih baik bagi kemaslahanatan umat.