Disuatu senja, aku duduk di pinggir sungai Mahakam Samarinda, sambil merenung sejenak, aku melihat bagaimana kapal-kapal besar itu berjalan, jembatan Mahakam yang kokoh berdiri, serta indahnya Masjid Islamic Center yang masih dalam pengerjaan. Jika diperhatikan dengan seksama betapa hebat dan luar biasanya otak manusia itu menciptakan jembatan sehingga bisa menghubungkan ratusan bahkaan ribuan kilometer di atas sungai atau lautan (Layaknya Jembatan Surabaya Madura), rawa atau apalagi namanya. Demikian juga dengan kapal-kapal besar yang berlayar itu sungguh takjub kita melihatnya. Jika kita melihat bendungan besar di Amerika betapa Maha besarnya karya anak manusia itu. Namun jika kita telisik lebih dalam lagi ternyata manusia itu hanyalah salah satu Maha Karya Allah diantara makhluk lainnya. Betapapun hebatnya ia namun semua itu semua atas izin Nya Allah sehingga dapat menggerakkan zat dan sel-sel yang ada dalam otaknya sehingga kita bisa bergerak lalu berpikir dan menghasilkan ide-ide yang cemerlang untuk menaklukkan alam ini.
Dengan kehebatan zat Allah yang ada di dalam otak sehingga menjadi pikiran dan buah ide yang indah kemudian dimanifestasikan dalam gambar-gambar artistic setelah itu dinyatakan dengan kerja para tukang dan arsitek. Jadilah ia karya anak bangsa yang Maha Dahsyat. Semua itu merupakan kehebatan zat yang maha dahsyat, pernahkah kita merasa itu, berpikir tentang itu, ataukah pandangan jahir kita masih terdinding dengan kehebatan itu, padahal semua itu hanyalah kehebatan sang Maha Hidup.
Coba kita perhatikan kembali, bagaimana ikan berenang, burung-burung beterbangan dan ulat-ulat di dalam tanah atau batu. Ternyata dengan zat Yang Maha Dahsyat itu, di dalam pikiran kita maka lahirlah Pesawat-pesawat yang canggih bahkan sampai menembus luar angkasa, demikian juga dengan kapal selam sehingga lebih dalam dari ikan berenang dan menyelam. Itu semua hanya sebagian dari ilmu yang Maha hidup, masih banyak lagi ilmu yang belum terlahir dan tercatat di dalam kalam manusia. Teringat kita firmannya, sesungguhnya Ilmu Allah itu Maha Luas, ibarat air, yang ada pada manusia itu hanyalah setitik air di lautan, jika kau tulis ilmu KU itu kata Allah, kau datangkan tinta sebanyak lautan niscaya belum cukup mencatat ilmu KU itu. Subhanallah betapa Maha Besarnya Engkau ya Robbi, kami ini tiada apa-apanya jika kita terbuka pikiran menyadarinya itu, namun kebanyakan kita hanya terdinding dengan silaunya jalan cerita itu namun tidak melihat bahwa itu hanya skenerio dari yang Maha Dahsyat yakni sang Dalang yang Kekal lagi abadi. (Mahakam, 15 Oktober 2007/Yandjagau).
Dengan kehebatan zat Allah yang ada di dalam otak sehingga menjadi pikiran dan buah ide yang indah kemudian dimanifestasikan dalam gambar-gambar artistic setelah itu dinyatakan dengan kerja para tukang dan arsitek. Jadilah ia karya anak bangsa yang Maha Dahsyat. Semua itu merupakan kehebatan zat yang maha dahsyat, pernahkah kita merasa itu, berpikir tentang itu, ataukah pandangan jahir kita masih terdinding dengan kehebatan itu, padahal semua itu hanyalah kehebatan sang Maha Hidup.
Coba kita perhatikan kembali, bagaimana ikan berenang, burung-burung beterbangan dan ulat-ulat di dalam tanah atau batu. Ternyata dengan zat Yang Maha Dahsyat itu, di dalam pikiran kita maka lahirlah Pesawat-pesawat yang canggih bahkan sampai menembus luar angkasa, demikian juga dengan kapal selam sehingga lebih dalam dari ikan berenang dan menyelam. Itu semua hanya sebagian dari ilmu yang Maha hidup, masih banyak lagi ilmu yang belum terlahir dan tercatat di dalam kalam manusia. Teringat kita firmannya, sesungguhnya Ilmu Allah itu Maha Luas, ibarat air, yang ada pada manusia itu hanyalah setitik air di lautan, jika kau tulis ilmu KU itu kata Allah, kau datangkan tinta sebanyak lautan niscaya belum cukup mencatat ilmu KU itu. Subhanallah betapa Maha Besarnya Engkau ya Robbi, kami ini tiada apa-apanya jika kita terbuka pikiran menyadarinya itu, namun kebanyakan kita hanya terdinding dengan silaunya jalan cerita itu namun tidak melihat bahwa itu hanya skenerio dari yang Maha Dahsyat yakni sang Dalang yang Kekal lagi abadi. (Mahakam, 15 Oktober 2007/Yandjagau).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar