Rabu, 30 September 2009
Jumat, 31 Juli 2009
Katanya Pendekar Ko Pusing sih
Sambil tergolek di tempat tidur sang pendekar berkata "Pusing juga aku mengurus beberapa rekan-rekan seperguruan", ada yang mengeluh masalah ekonomi, ingin berobat, ingin ini dan itulah banyak lagi dech keluhan. Lho bukannya pendekar itu sakti kan CaK gu ( begitu panggilan sang Pendekar), Pendekar khan juga manusia, bisa pusing dan pusang, Kiyai juga manusia, presiden juga manusia, dimana hal-hal yang terjadi dengan manusia pasti bisa terjadi pada setiap orang dech. Terkadang memory komputer manusia ini bisa juga dia hank (heng), itu wajar tinggal bagaimana kita menyalurkannya saja lagi, kalau tidak bisa di salurkan lagi bisa-bisa kita menjadi bego alias miring dech.
Ingat dech sebuah " kalam Illahi yang artinya " Telah aku tundukkan semua apa yang ada di langit dan di bumi semuanya untuk mu, apakah kamu tidak memikirkan (Al Jasiyah). Maka itu pikirkanlah agar semua itu bisa keluar dari puzzlenya Allah Ta'ala, nah tinggal kita saja lagi apakah kita menggunakan brainware yang terpasang di kepala kita ini ataukah kita sudah tak sanggup lagi menjalankannya, alias powernya lemah..
Namun pada intinya semua manusia pasti merasakan tentang kegalauan, resah dan gelisah, tanpa terkecuali apa saja profesinya, maka itu kembalilah ke Jalan Rabb mu...sesakti apa pun pendekar pasti juga merasakan namun bagaimana kita memikirkannya secara bersama, secara berjamaah pula sehingga kita dapat keluar dari kegalauan itu. Insya Allah, kelakar pendekar dengan jalan ilmu Allah yang di titipkannya dengan kita ... coba saja dan pasrahkanlah maka kit akan melihat hasil kesungguhan kita dalam berusaha tersebut.
Kata orang " kata orang pendekar ko bisa pusing, la iyalah namanya juga manusia men......salam
Semoga Illah membuka Rahmat bagi kita semua .... Amin iiinalh pancaran Qalam itu menjadi tersurat.....
Ingat dech sebuah " kalam Illahi yang artinya " Telah aku tundukkan semua apa yang ada di langit dan di bumi semuanya untuk mu, apakah kamu tidak memikirkan (Al Jasiyah). Maka itu pikirkanlah agar semua itu bisa keluar dari puzzlenya Allah Ta'ala, nah tinggal kita saja lagi apakah kita menggunakan brainware yang terpasang di kepala kita ini ataukah kita sudah tak sanggup lagi menjalankannya, alias powernya lemah..
Namun pada intinya semua manusia pasti merasakan tentang kegalauan, resah dan gelisah, tanpa terkecuali apa saja profesinya, maka itu kembalilah ke Jalan Rabb mu...sesakti apa pun pendekar pasti juga merasakan namun bagaimana kita memikirkannya secara bersama, secara berjamaah pula sehingga kita dapat keluar dari kegalauan itu. Insya Allah, kelakar pendekar dengan jalan ilmu Allah yang di titipkannya dengan kita ... coba saja dan pasrahkanlah maka kit akan melihat hasil kesungguhan kita dalam berusaha tersebut.
Kata orang " kata orang pendekar ko bisa pusing, la iyalah namanya juga manusia men......salam
Semoga Illah membuka Rahmat bagi kita semua .... Amin iiinalh pancaran Qalam itu menjadi tersurat.....
Rabu, 24 Juni 2009
Ki Dalang Alam
KI Dalang Alam,
Disuatu senja, aku duduk di pinggir sungai Mahakam Samarinda, sambil merenung sejenak, aku melihat bagaimana kapal-kapal besar itu berjalan, jembatan Mahakam yang kokoh berdiri, serta indahnya Masjid Islamic Center yang masih dalam pengerjaan. Jika diperhatikan dengan seksama betapa hebat dan luar biasanya otak manusia itu menciptakan jembatan sehingga bisa menghubungkan ratusan bahkaan ribuan kilometer di atas sungai atau lautan (Layaknya Jembatan Surabaya Madura), rawa atau apalagi namanya. Demikian juga dengan kapal-kapal besar yang berlayar itu sungguh takjub kita melihatnya. Jika kita melihat bendungan besar di Amerika betapa Maha besarnya karya anak manusia itu. Namun jika kita telisik lebih dalam lagi ternyata manusia itu hanyalah salah satu Maha Karya Allah diantara makhluk lainnya. Betapapun hebatnya ia namun semua itu semua atas izin Nya Allah sehingga dapat menggerakkan zat dan sel-sel yang ada dalam otaknya sehingga kita bisa bergerak lalu berpikir dan menghasilkan ide-ide yang cemerlang untuk menaklukkan alam ini.
Dengan kehebatan zat Allah yang ada di dalam otak sehingga menjadi pikiran dan buah ide yang indah kemudian dimanifestasikan dalam gambar-gambar artistic setelah itu dinyatakan dengan kerja para tukang dan arsitek. Jadilah ia karya anak bangsa yang Maha Dahsyat. Semua itu merupakan kehebatan zat yang maha dahsyat, pernahkah kita merasa itu, berpikir tentang itu, ataukah pandangan jahir kita masih terdinding dengan kehebatan itu, padahal semua itu hanyalah kehebatan sang Maha Hidup.
Coba kita perhatikan kembali, bagaimana ikan berenang, burung-burung beterbangan dan ulat-ulat di dalam tanah atau batu. Ternyata dengan zat Yang Maha Dahsyat itu, di dalam pikiran kita maka lahirlah Pesawat-pesawat yang canggih bahkan sampai menembus luar angkasa, demikian juga dengan kapal selam sehingga lebih dalam dari ikan berenang dan menyelam. Itu semua hanya sebagian dari ilmu yang Maha hidup, masih banyak lagi ilmu yang belum terlahir dan tercatat di dalam kalam manusia. Teringat kita firmannya, sesungguhnya Ilmu Allah itu Maha Luas, ibarat air, yang ada pada manusia itu hanyalah setitik air di lautan, jika kau tulis ilmu KU itu kata Allah, kau datangkan tinta sebanyak lautan niscaya belum cukup mencatat ilmu KU itu. Subhanallah betapa Maha Besarnya Engkau ya Robbi, kami ini tiada apa-apanya jika kita terbuka pikiran menyadarinya itu, namun kebanyakan kita hanya terdinding dengan silaunya jalan cerita itu namun tidak melihat bahwa itu hanya skenerio dari yang Maha Dahsyat yakni sang Dalang yang Kekal lagi abadi. (Mahakam, 15 Oktober 2007/Yandjagau).
Dengan kehebatan zat Allah yang ada di dalam otak sehingga menjadi pikiran dan buah ide yang indah kemudian dimanifestasikan dalam gambar-gambar artistic setelah itu dinyatakan dengan kerja para tukang dan arsitek. Jadilah ia karya anak bangsa yang Maha Dahsyat. Semua itu merupakan kehebatan zat yang maha dahsyat, pernahkah kita merasa itu, berpikir tentang itu, ataukah pandangan jahir kita masih terdinding dengan kehebatan itu, padahal semua itu hanyalah kehebatan sang Maha Hidup.
Coba kita perhatikan kembali, bagaimana ikan berenang, burung-burung beterbangan dan ulat-ulat di dalam tanah atau batu. Ternyata dengan zat Yang Maha Dahsyat itu, di dalam pikiran kita maka lahirlah Pesawat-pesawat yang canggih bahkan sampai menembus luar angkasa, demikian juga dengan kapal selam sehingga lebih dalam dari ikan berenang dan menyelam. Itu semua hanya sebagian dari ilmu yang Maha hidup, masih banyak lagi ilmu yang belum terlahir dan tercatat di dalam kalam manusia. Teringat kita firmannya, sesungguhnya Ilmu Allah itu Maha Luas, ibarat air, yang ada pada manusia itu hanyalah setitik air di lautan, jika kau tulis ilmu KU itu kata Allah, kau datangkan tinta sebanyak lautan niscaya belum cukup mencatat ilmu KU itu. Subhanallah betapa Maha Besarnya Engkau ya Robbi, kami ini tiada apa-apanya jika kita terbuka pikiran menyadarinya itu, namun kebanyakan kita hanya terdinding dengan silaunya jalan cerita itu namun tidak melihat bahwa itu hanya skenerio dari yang Maha Dahsyat yakni sang Dalang yang Kekal lagi abadi. (Mahakam, 15 Oktober 2007/Yandjagau).
Rabu, 08 April 2009
Penunggu Raudah Di Masjid Nabawi

Syech Sambutan (Nama asli beliau Muhammad NA), adalah seorang penerus perguruan BC yang ada di Samarinda, beliau sejak beberapa tahun terakhir ini lebih fokus pada pemberdayaan spirit adik-adik seperguruan maupun rekan-rekan seperguruannya. Keseharian beliau sebagai Pengajar di salah satu Fakultas Teknik Universitas Swasta di Samarinda. Sebelumnnya beliau adalah pegawai negeri sipil yang mengajar di sebuah perguruan Tinggi Negeri di kota Banjarmasin, namun karena alasan keluarga yang ada di Samarinda beliau mengundurkan diri dan kembali ke tanah kelahirannya di Kalimantan Timur.
Sebagai seorang penerus BC dimana sebelumnnya di pegang oleh Mbah Iyo dan Ma Iyo (Eyang Putri atau istri dari Mbah Iyo), Setelah Mbah Iyo berpulang ke Rahmatullah, perguruan ini berkembang dan di bangun oleh rekan-rekan seperguruannya di beberapa tempat, diantaranya ada yang satu kota di Samarinda, serta beberapa kota lainnya seperti Balikpapan dan Trenggalek, Jawa Timur. Masih ada lagi di beberapa tempat namun belum terpromosikan secara luas.
Mengapa bergelar Syech Sambutan ?, rekan-rekan di perguruannya memanggil beliau dengan sebutan demikian karena beliau telah menunaikan ibadah haji dan telah melakukan ibadah umrah beberapa kali dan yang baru-baru ini bersama Eyang Putri (biasa di panggil Ma Iyo) juga melakukan ibadah Umrah. Mengapa ada embel-embel "Sambutan" karena beliau tinggal di daerah Gunung Sambutan, sesuai dengan falsafah Sambutan, beliau akan menerima tamu darimana saja rekan-rekan seperguruannya datang, artinya akan menyambut setiap tamu yang datang dengan ramah dan bersahaja. Di beranda belakang rumah beliau berdiri pendopo BC sebagai tempat pertemuan untuk menyambut tamunya sekaligus sebagai tempat rekan-rekan latihan atau menempa olah kanuragannya.
Selama di Tanah Suci (Mekkah Al Mukarramah dan Madinah Al Munawwaroh), setiap melakukan haji atau umrah, terutama di Madinah, beliau lebih banyak beribadah di tempat Raudah, di sekitar kawasan Raudah tersebut beliau cukup hapal dengan tempat-tempat yang bersejarah dan Mustajab (Tempat Ijabahnya do'a), Saat di dekat kawasan Raudah (di samping Makam Rasullullah SAW) tersebut terkadang banyak jamaah termasuk keluarga beliau, banyak yang bertanya dimana Raudah ?, beliau selalu menunjukkan di daerah itu Raudah dengan tanda-tanda pilar hijau dan karpet hijau. Pada tempat ini banyak jamaah berdoa untuk Rasullullah SAW serta doa lainnya termasuk untuk kesejahteraan, kesehatan, keselamatan dan keperluan yang positif lainnya. Kejadian aneh ini selalu terjadi,selalu bertanya kepala Syech Sambutan, terutama jamaah Indonesia. Inilah Af'al Allah Ta'ala yang dialaminya, aku ini seperti penunggu Raudah saja geretek hati (suara hati) sang Syech Sambutan, yach itulah Rahmat Allah serta Safa'at Rasullullah SAW. Muhammad Rasullulah itu adalah Kekasih Nya Allah dan Rasullulah itu adalah Junjungan kita, tauladan kita sekarang Rasullulah itu maujud pada batang tubuh siapa yang dikehendaki-Nya, untuk dapat menyampaikan setiap orang bertanya dimana Makam Beliau itu. Bukankah, Kata " Rasul" itu adalah penyampai. Ada pula yang mengatakan " Ya saidi Ya Rasullulah" Wahai kekasihku ya Rasullullah, Sampaikanlah Aku, sungguh kecil usahaku, Sampaikanlah aku, temukanlah aku. Tentunya yang Rahmatan lilalamin, pembawa Rahmat bagi seru sekalian alam.
Tidak hanya itu saja, tempat lainnya yang sering diberi tahu oleh Syech Sambutan, seperti : Pintu Jibril, mimbar kecil dimana Rasulullah sering menerima wahyu dari Jibril yang terletak di sekitar Raudah dan makam Rasullullah pemimpin Umat di dunia ini. Tempat-tempat ini jarang sekali di beri tahu oleh pembimbing haji (Mutawwaf).
Rabu, 01 April 2009
PENDEKAR ITU NAIK HAJI
Telah lama menjadi impian sang Pendekar untuk naik haji, namun belum ada langkah dan biaya yang cukup untuk menunaikan kewajiban tersebut. Namun entah mengapa setelah berusaha cukup gigih akhirnya doa itu menjadi kenyataan, hasil penjualan properti tertentu membuatnya untuk melaksanakan niatnya untuk pergi ke Tanah suci alias Makkah Al Mukarramah. Walaupun kali ini bukan haji besar namun hanya haji kecil alias Umrah, tentu tidaklah mengapa yang penting doaku di dengar oleh Nya. Gumam sang Pendekar. Kini pendekar itu telah merasakan nikmatnya Sang Kholik untuk membawanya berkeliling Ka'bah dan Kota Makkah termasuk Madinah yang menjadi kewajiban untuk di Kunjungi. Aku ingin memancing Allah kelekarnya biar hatiku tambah yakin dan tambah semangat untuk bisa terus mengunjungi Baitullah Mu. Amiien. Memang sebagian orang masih bingung dengan kalimat Memancing Tuhan itu, bukakah Sadaqoh juga memancing Rahmat Allah dengan datangnya pertolongan untuk apa saja termasuk untuk memberikan kecukupan dalam hal apa yang dia inginkan sesuai dengan Kudratnya Allah. Kita Tunggu saja hasilnya dengan Istiqomah dalam kelaisaan Nya.
Sabtu, 28 Maret 2009
Masjid Nabawi

Jika kita teringat dengan istilah "Madinatul Munawaroh" tentu kita pasti ingat siapakah pembangun kota ini, yakni nabi Muhammad SAW. Rasullullah yang merupakan pemimpin umat yang Rahmatan Lilalamin. Dikota inilah Masjid yang terkenal yang dibangun oleh Nabi besar Muhammad SAW,setelah beliau hijrah dari kota Mekkah Al Mukarramah yakni Masjid Nabawi atau masjidnya nabi. Di dalam masjid ini pula terdapat makam beliau dimana seluruh umat muslimin di dunia banyak mengunjungi untuk melaksanakan ibadah Haji maupun Umrah. Pada tahun 2005 "Ana" berkesempatan untuk berjiarah ke makam Rasullulah ini dalam tour of Umrah. Banyak cerita menarik yang terjadi selama melaksanakan Umrah ini, dari sendal yang hilang setelah pulang dari masjid maupun saat memegang Baitulah ataupun Ka'bah yang penuh sensasi tersendiri, terputar di dalam Masjidil Haram tanpa sadar karena lupa pintu masuk yang dituju dimana menaruh sandal sebelumnya. Serta berbagai pengalaman unik lainnya yang coba akan di paparkan dalam beberapa cerita berikutnya. Salam Baitullah, "Labbaikallahumma labbaik, la syarikalakalabaik."
Selasa, 17 Maret 2009
Masjid Cut Mutiah

Pada tanggal 11 Februari 2009, kami di undang oleh Humanitarian Forum Indonesi yang berkolaborasi dengan MDMC (Muhammadiyah Disaster manajemen Center dan Uniesco ke Jakarta untuk memberikan masukkan dalam rangka penyusunan alat penilai kesiapsiagaan bencana untuk masyarakat. Sebagaimana yang diketahui ada 9 hazard atau bencana yang umum terjadi di Indonesia. Hari pertama cukup melelahkan karena kami harus berangkat pukul 3 dini hari untuk mengejar keberangkaan dengan pesawat Garuda pad pukul 07.00 pagi. Setelah tiba pukul 06.00 pagi di Bandara sepinggan Balikpapan. Kami langsung bordingpass, setelah menunggu 30 menit langsung menuju pesawat. Perjalanan ke Jakarta menuju bandara Cengkareng, memerlukan waktu kurang lebih 2 jam. Tepat pukul 08.00 kami telah tiba di Cengkareng, waktu Jakarta lebih lambat 1 jam dimana untuk wilayah Balikpapan saat itu pukul 09.00. Kami segera menuju pangkalan taksi,setelah tidak mendapatkan silverbird yang murah kami segera mencari pangkalan si sebelahnya yaitu Taksi Gymna dengan harga masih cukup mahal (sekitar 170 ribu Rp). Pukul 09.00 kami telah tiba di Hotel Sopian Betawi dimana acara dilakukan.
Setelah satu hari berseminar dan di lanjutkan sampai jam 08.00 kemudian selesai jam 09.00 malam. kami bertiga (Aku, Heppy dan Ike) coba untuk berjalan-jalan di sekitar lokasi Menteng. Setelah menyeberang jalan dan tidak ada lokasi yang cukup bagus untuk di kunjungi kami kembali menyeberang lagi ke lokasi semula untuk kembali ke hotel Sopian. Baru beberapa langkah persis di simpang empat Menteng itu, tiba-tiba ada motor metik dengan penumpangnya dengan cepatnya menyambar tas tangan Yunike yang bergantung di bahunya, dengan secepat kilat juga aku melihat Yunike terlempar di badan jalan terguling-guling, aku tidak sadar, kupikir dia di tabrak, eh, taunya dia mau dijambret tasnya, namun tidak berhasil karena tas tangan itu masih tergantung dan tersangkut di tangannya. Yunike setengah sadar sambil berkat dengan ku pa..pa tasku, aku agak sedikit terbengong alias kebingungan. Namun kucoba mengangkat tubuh Yunike ke pinggir jalan da menyandarkannya di box telpon yang ada di Jalan Menteng tersebut, selang beberapa waktu ada beberapa orang mengerumuninya dan bertanya apa yang terjadi. " Spontan saja ku katkan bahwa kami di Jambret. Ada beberapa orang menyarankan untuk di bawa ke rumah sakit Bunda" yah dengan seksama bersama Heppy kami bawa Yunike ke Rumah sakit Bunda dengan mengendarai bajai yang ada tidak jauh dari tempat kejadian. Tanpa terasa di lenganku darah Yunike meleleh dari kepalanya, ternyata kepalanya terhempas di lantai jalan dan bocor. Setelah sampai di rumah sakit Bunda, kami segera bertanya dengan Satrpam dan disarankan untuk menuju UGD. Disana Yunike di tangani oleh beberapa perawat dan seorang dokter perempuan untuk menjahit kepalanya yang terluka, cukup lebar luka Yunike dengan empat mata jahitan.
Keesokan harinya ku cerikan kejadian ini saat makan pagi, semua panitia terkejut, biasalah expresi peduli, namun kami dapat mengikuti kembali aktifitas FGD PASTI yang dilakukan oleh panitia.
Setelah pukul 11.30 menit acara break sebentar karena hari itu hari Jumat, kami harus melakukan Jum'atan di Masjid di seberang Hotel Sopian Betawi. Setelah mengambil air wudhu aku langsung menuju mesjid bersama teman-teman. Karena seumur hidup belum pernah masuk masjid yang agak aneh ini, ya aku meras unik saja, Ternyata masjid ini bangunannya tidak tepat menghadap ke Barat atau arah kiblat. Jika kita di dalam masjid harus menyerong ke kanan lagi 15 derajat (serong lima belas derajat). Setelah bertanya dengan teman-teman yang tahu Jakarta , oh ternyata bangunan itu adalah bangunan rumah, kemudian difungsikan menjadi gereja setelah itu baru di hibahkan lagi untuk Masjid. Yaah itulah Masjid CUT MUTIAH yang berada di Menteng, dekat Hotel Sopian Betawi. Namun Masjid ini cukup banyak juga jamaahnya sampai para jamaah meluber ke luar masjid. Hampir setiap Jum'at pula di luar pagar masjid ada Pasar dadakan sebelum sholat kemudian kurang lebih 30 menit setelah sholat dan setelah itu bubar. Lumayan ada berbagai penjual baju koko atau muslim, makanan, obat-obatan,kaset dan sedal jepit maupun sepatu.
Itulah keunikan Masjid Cut Mutiah di sekitar Menteng, Jakarta Pusat. adalah bagian dari journey yang aku lalui di Kota Besar. Sampai jumpa Masjid Cut Mutiah pada waktu-waktu berikutnya jika berkunjung ke ibukota.
Langganan:
Postingan (Atom)